Cerpen Ozzie : Jawara
Wednesday, September 2, 2009
SAKTI
Pendekar ampuh ?
Preman paling mematikan ?
atau orang yang paling berkuasa saat ini ?
Boss mafia dengan sekarung peluru di tangannya?
Hannibal ?
Aku tidak pernah takut dengan siapapun. Siapapun dia, hadirkan saja. No compromise, everything I gasak. Sikat ancur!
Pernah ada yang datang. Berwajah garang dengan barisan bekas luka goresan pedang di sepanjang bahu kanan. Bekas pertempuran yang melegenda, kata orang-orang di pasar. Seperti kisah Anoman menghadang Sinta. Heroik ! Hebat, dan sangat mengagumkan. Tapi yang kutahu, dia bukan Anoman. Hanya Rahwana saja. Menggondol isteri tetangganya sendiri. Kabur ke desa sebelah, dan ditemukan bercinta di tengah ladang pak lurah. Maka mengamuklah Anoman, si suami. Dan blar, perang pun dimulai.
Suami mati kena tekanan batin. Rahwana menang dan bebas menggondol lagi. Apa saja digondol. Apa saja! Cewek, sapi, ayam, teve, bahkan jemuran tak berdosa.
Hari ini, akhirnya dia tiba di depanku. Semua orang beringsut menjauh. Ada yang pura-pura dipanggil anaknya. Ada yang terkena demam dadakan. Ada pula yang beringsut pelan-pelan seperti cecak, dan hap, menghilang seperti jin. Jurus menghilang sepertinya sebuah jurus ampuh yang hanya dapat digunakan ketika berhadapan dengan orang ini.
Tapi aku tetap gagah. Menatapnya dengan tatapan mata santai. Tanpa takut, tanpa dag dig dug.
“Ada apa? Seperti biasa?” tanyaku. Ya, seperti biasanya. Berperang, menggondol istri orang ……
“Ya ! Seperti biasa!”, jawaban nanar keluar dari mulutnya. Menghela nafas panjang dan menyingkap lengan bajunya ke atas. Ups! Matanya melihat kanan kiri.
Aku siap. Sangat siap malah.
Kuambil kain yang sudah kupersiapkan sejak kemarin. Ini kain yang ampuh. Kudapat dari nenek moyang dan kemungkanan juga dipakai oleh Aji Saka saat mengulur Dewatacengkar ke lautan sana. Dan menunggu saat yang tepat.
Saat ada kesempatan, kulingkarkan kain itu ke lehernya. Ciat! Eh, dia hanya menggeleng sedikit ke kanan. Secepat kilat kubuat simpul pada ujung kain. Hup! Dia tidak bergerak ! ampuh kain ini terbukti sudah.
Saat dia putar kakinya - aku lihat itu karena mataku sangat awas – secepat kilat kuambil senjata lain di belakangku. Senjata khusus yang dipersiapkan oleh manusia sakti di negeri seberang sana. Terlihat mengkilat, menyala tajam dengan kekuatan dahsyat.
Dia hanya mengerling kearahku.
Hah, ampuh juga senjata ini. Baru dipegang sudah memancarkan aura mengerikan. Takut dia!
Pelan-pelan kudekati bahu penuh goresan pedang itu. Dengan cepat, hup, kupegang kepalanya saat ada kesempatan. Dan senjataku mulai beraksi.
Crak, crak! Crak!
Ha ha ha, akulah si tukang cukur.
Dan aku menang. Kepala goresan pedang menjadi gundul mengkilap.
Bagus-bagus… dia acungkan jempolnya.
Yogyakarta, 6 Maret 2009
[ajikecil@yahoo.com]
Di depan komputer yang aneh.
Cerpen Ozzie : Matahari
Hari ini hari yang kedelapanpuluh tiga. Hari-hari sunyi, ketika banyak manusia menunggunya datang. Muncul. Sesekali saja. Hanya sekali saja, itu yang dibutuhkan.
Ribuan orang memadati lapang datar ini. Sampah berserakan dimana-mana. Jerami, kantong plastik bahkan pakaian dalam tercecer di mana-mana. Di tanah, atap, ujung sapu, mobil, bahkan menyempil di ranting. Hanya menunggu. Setiap orang tidak lagi sempat memperhatikan apapun di sekitar kakinya. Mata-mata merah terbelalak, kantong mata gembung menghitam muncul pada setiap wajah manusia. Mengantongi dan mengunyah roti, mereka menunggu, menunggu bahkan menunggu pula dalam tidur mereka.
Kenapa hari ini dia tidak datang ? bisik-bisik berserabutan seperti lebah. Mengorek kuping kanan, menelusup telinga kiri, bahkan dahi menjadi hitam karena daki tangan terlalu sering ditempelkan. Yang diharapkan kehadirannya tidak pernah muncul lagi. Seperti dulu.
Seperti dulu. Ya, seperti saat daun mekar dan embun menetes kebawah. Saat tanah masih ingat warna dirinya. Atau saat burung kutilang mengendus-endus betinanya. Seperti dulu.
Tapi sekarang dia mulai malas muncul. Tidak pernah, lebih tepatnya begitu. Satu hari pertama, biasa saja. Orang-orang menganggap, itu hanya rasa malas yang biasa terjadi karena rutinitas. Biasa saja. Toh hanya sekali saja. Bisa dimaafkan, begitu kata orang . Semua akan kembali normal. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Santai saja.
Hari ketujuh. Ini sudah tidak benar. Ada yang aneh. Semua orang berpraduga. Teori banyak bermunculan dimana-mana. Surat kabar, televisi, internet bahkan nyanyian anak-anak telah berganti. Nyanyian kerinduan. Semua takut kehilangan. Pemerintah negara yang paling berkuasa pun sudah menyatakan mengirim tim khusus untuk negosiasi, membujuk bahkan menyogok. Pokoknya dia harus datang. Kalau tidak, maka yang ada hanyalah kerinduan yang menempel di planet ini.
Hari ketiga puluh. Utusan yang dikirim tidak pernah kembali. Tidak ada laporan. Tidak ada kata sambutan atau yang sejenisnya. Semua tiba-tiba menjadi diam. Bisu. Sunyi. Dibanyak tempat, orang-orang mulai menyangkal teori ketidakhadirannya. Wilayah logika as-is menjadi tertutup hanya karena satu pernyataan tak terbantahkan : dia telah bunuh diri, menggantung di langit. Maka selesailah para ilmuwan memperbincangkan semuanya. Sungguh, kendali mereka atas imajinasi tidak akan pernah berhasil.
Hari ke delapanpuluh tiga setelah “kematiannya”, semua orang berharap bahwa kerinduan itu akan menengoknya. Mengumpulkan seluruh keluarganya, bersama-sama menunggu dan berbincang tentang keajaiban masa lalu. Memohon kepada anak-anaknya, jangan pernah melupakan setiap jengkal tanah. Setiap rimbun dedaunan. Diatasnya ada tanggung jawab hati, agar peristiwa ini tidak perlu lagi terjadi.
………………………………………..
Di pojok sorga, Matahari sedang menggigil kedinginan. Sudah delapan puluh tiga hari ini dia masuk angin. Mual dan bersendawa.
Huek… cuh, huek…
Seorang malaikat disampingnya terlihat kesulitan mencari es batu. Kompres matahari tidak termasuk dalam daftar bawaan Malaikat yang lugu tersebut. Biasanya dia mencarinya di ujung dunia sana. Dulu banyak, berkepal-kepal. Sekarang sudah tidak ada. Susah dan jarang. Sekepil saja. Itupun kalau beruntung bisa menemukan.
Mengeluh, Malaikat itupun hanya bisa mengelus dada memandang isi termosnya yang kosong.
“ Kasihan Matahari…”
Yogyakardus, 1 Agustus 2009 20:26 WIB
[ajikecil@yahoo.com]
Cerpen Ozzie : Surat di atas Kaca
Saturday, August 22, 2009
“Coba tebak. Apa ini ?”
Vivi hanya bisa menggeleng.
Ibunya tersenyum saat menggerakkan jari-jari tangannya yang sudah menyusut di depan wajahnya. Menariknya perlahan, mendekat pada cahaya lampu teplok diatas meja. Menggerakkan ujung jarimya memberikan nyawa pada bayangan merpati di sana, di tembok yang biasanya dijadikan jalan raya untuk semut. Kelabu dan selalu lembab saat hujan.
Merpati itu melayang-layang. Kabur bayangannya dan membesar. Lalu mengecil hingga terlihat keriput tangan ibu. Vivi tersenyum, berteriak kecil ketika burung itu beringsut dan menjadi kelinci. Telinganya berombak dan menjalar kesana-kemari. Ibu tertawa dan bayangan kelinci yang cantik hinggap di ujung hidungnya. Terdengar tawa kecil, dan Vivi menarik selimutnya. Menahan bayangan itu.
Jangan menempel disini, menempellah di jendela.
Ibu pun tersenyum. Mematikan lampu. Mengecup anaknya tercinta . Selamat malam, semoga mimpimu bersama merpati dan kelinci. “Ibu sayang kamu, nak. Ibu akan selalu mengikutimu, kemanapun kamu berada. Mendukungmu, apapun yang terjadi. Memberikanmu cinta, kemanapun dirimu bersembunyi.” Cup.
Maka memejamlah mata Vivi.
Hai, bayangan itu tidak pernah pergi. Melebar, membesar. Dan menempel di mana-mana. Menguntit batu, pepohonan bahkan tiang bendera di depan rumah Ibu. Membentuk bayangan ibu di mana-mana.
Dan malam bertambah malam…
Vivi masih terlelap.
Tepat diatas makam Ibunya yang meninggal kemarin pagi.
Yogyakardus, 20 Agustus 209 22.00
[ajikecil@yahoo.com]
Menunggu sahur …
Baca Cerpen Yang Laen :
Cerpen Ozzie : Banci Ah